Saturday, June 28, 2008

The Godfather Trilogy - Movie

I didn't realize that writing about this movie would be this difficult. But one thing for sure about this trilogy is... this movie is classic!

Seumur-umur kayaknya aku udah nonton film ini banyak kali, pertama kali mungkin waktu smp, dalam format Betamax, sampe sekarang udah bisa nonton dalam format DVD dan sepertinya sekarang aku udah mulai mikir-mikir buat punya yang versi original - Director's Cut kalau ada...

Bulan ini Anteve nayangin film ini di program star movie mereka di sabtu dan minggu. Entah, walaupun sudah hampir2 hafal ama film ini (dan krn udah beli novelnya juga), teteup... kayak berat mindahin channel ke TV lain. Kayaknya gimana gitu pas Michael Corleone muda atow pas bagian Vito Corleone muda. DeNiro & Pacino emang aktor-aktor hebat ya... Bener-bener pas buat meranin karakter ini. Tapi yang harus diacungin jempol sih ya yang milih mereka berdua sih, si Francis Ford Coppola, walaupun rela ribut-ribut sama pihak produser n pake ngancem mundur dari produksi segala.

Banyak kejadian menarik di balik pembuatan film ini ternyata. Di luar gosip "KKN" yang dilakukan oleh si director karena ngebawa dari anak, istri, sepupu, bapak, dan segerombolan klan Coppola lainnya, this movie is a big hit! Trivia yang paling ngejedak adalah ternyata before each of killing scene, there would be an orange (or a bunch of oranges) on the set. It's either on the table, or peeled by the actor. Perhatiin deh... aku juga baru ngeh. Nggak tau juga kenapa adegan berdarah itu selalu ada setiap si jeruk ini muncul. Blood and orange? kalo jeruk jenis Blood Orange sih emang ada... dan itu jeruk yang uenak banget... hihihi...

Dari ketiga film Godfather ini, yang aku paling suka ya yang pertama (1972). Walaupun agak beda sama yang di novel (ini dijelasin lengkap di Wikipedia), tapi tidak mengurangi kehebatan film ini sendiri. Dan ternyata, istilah "Godfather" dalam dunia mafia itu cuma rekaan-nya Mario Puzo doang awalnya, dan gara-gara dia, istilah itu akhirnya dipake "resmi" oleh si gank mafia itu sampe sekarang (probably). Di film bagian I ini Al Pacino masih muda banget... and even though some people thought that Al made Michael on the first scenes looked "idiotic", tapi menurutku, justru di situ letak kehebatannya. Sinar matanya itu loh, kayaknya kalem, padahal cold-blooded banget. Dan ini makin jelas waktu di film kedua. Bravo, Al!

Di film kedua aku suka DeNiro yang meranin Vito muda. Dia bener-bener bisa membawa karakter Vito Corleone yang ingin tampil sebagai "family man",di hadapan istri dan anak-anaknya, walaupun di balik itu dia tega ngebunuhin orang-orang yang berusaha menghalangi sepak terjangnya. And once again, matanya itu... kayak bego tapi sebenernya pinter banget.

Dua minggu setelah pemutaran film ini, iseng-iseng aku nyari theme songnya. Somehow, I became really emotional and could not stop my tears when listening to this instrumental song. Beneran loh ini... kayaknya ni lagu menyentuh banget...! Di balik itu, sebenernya ada hal menarik juga soal musik ini. Ternyata musik ini dianggap bukan original dan tidak layak untuk dapet Oscar, karena waktu tahun 1958, musik ini diciptain sama Eduardo de Fillipo di film Fortunella, walaupun dalam ritme yang berbeda (film Fortunella itu film komedi gitu deh katanya). Hmmm... I wonder why Nino Rota & Carmine Coppola (bapake si Francis) ngelakuin ini ya... tapi mungkin kalau lagunya nggak seperti ini, rasa filmnya bisa beda ya... I don't know.

Ada yang pernah nonton film Fortunella ini? Kasi tahu aku ya... I'm so curious.

Yang paling males tuh nonton final movienya. Mungkin juga karena dibikin tahun 90-an, dan para pemain intinya udah ga lengkap n mule kliatan tuwir...

Yang paling banyak dapet hinaan di film ini adalah si pemeran Mary yang tidak lain dan tidak bukan... anaknya Francis, si Sofia Coppola. Sofia mungkin hebat sekarang setelah jadi movie director ya, tapi di film ini, memang dia nggak bisa dibilang hebat. Pendapatku, dia kurang cantik dibanding pemeran Mary yang dijadwalkan sebelumnya (Winona Ryder). Tapi dia so... Italian. Lah iya laaaa.... Kalo Winona yang main mungkin rasanya jd "cemplang" kali ya krn dia nggak Italian-face gitu...

Secara keseluruhan, ini salah satu film yang nggak boleh dilewatin begitu saja and this movie would be able to give you special experience. Percaya deh...!

Wednesday, May 14, 2008

Thursday, May 08, 2008

CAP = Crazy About Puzzle

Hehe... Mo crita dikit soal "my craziness" about puzzles.
Aku termasuk orang yang suka banget sama puzzle and forms (maksudnya itu loh, formulir...). Entah kenapa aku suka banget sama dua hal ini. Dulu waktu salah seorang keponakan dapat hadiah puzzle yang 1000 keping, aku rela nggak tidur semaleman, nyusun-nyusun kepingan puzzle bergambar "Felix the Cat" itu sampai bener-bener kelar. Paginya, orang serumah heboh ngeliat puzzle itu udah rapi tersusun di lantai. Hehe... belum tau kalo itu nyusunnya sampe nggak tidur...

Pas di kantor, anak-anak pada ngantri di mejaku buat nitipin pengisian aplikasi kartu kredit/aplikasi kartu HALO, gara-gara pada males ngisinya, sementara aku dengan mata berbinar-binar langsung ngambil pulpen dan mengisinya dengan semangat. Dan jangan salah, aku ngisi form itu dengan sangat rapi dan bersih, dengan kerelaan tinggi :D

Hahah... kata temen yang baca buku psikologi, ada istilahnya untuk orang-orang yang punya kegilaan dengan puzzle dan forms ini (apa ya Dit, istilahnya???, please komen ya...)

Nah, sebulan lalu, suami pulang kantor bawa 1 papan puzzle woodcraft ini. Woddcraft ini kalo menurut tulisannya, nanti bisa jadi tempat bolpen di meja. Kata suami, ada yang ngasi oleh-oleh dari Thailand atau Hong Kong gitu. Berhari-hari papan itu nggak dia sentuh, cuman nggeletak dengan sedih di kolong meja TV. Pikir-pikir, ah ya udah sini deh, biar buat aku aja. Pas banget di meja kantor blm ada tempat bolpen-nya.

Waktu iseng, aku rangkai aja puzzle ini, wah... seru juga, walopun jari-jari agak ketusuk pecahan kayunya yang lumayan tajem. Bego juga sih, padahal udah dikasi ampelas, tp nggak dipake. Nggak lama, tempat bolpenku pun jadi. Aku seneeeeng banget. Meja kerjaku jadi lebih manis kelihatannya... wekekekek...

Tapi besokannya, puzzle aku bongkar lagi, gara-gara aku kurang sreg ama salah satu bagiannya. Hehe... Emang sih, agak nggak simetris (udah dari sono-nya), tapi setelah penyusunan yang ke-2, hasilnya lebih bagus. Ternyata kemarin ada bagian yang kebalik, makanya ada beberapa pieces yang nggak pas. Nah.. lihat dong fotonya... bagus kannn?? hihi... biarin nggak ada yang muji, dipuji ndiri aja...

Setiap selesai menyusun puzzle, aku ngerasa puas banget. Malah, aku sekarang lagi mesen ke suami buat beliin lagi woodcraft kayak gini.

Tuesday, April 08, 2008

BLOKAR BLOKIR... maunya apa sih

sebenernya, dengan keputusan blokir beberapa web (yang ga jelas konsepnya, knapa cuma MySpace, Rapidshare, MP, trus entah apalagi, padahal penyedia jasa yang serupa masih seabreg-abreg... masih ada megaupload kan? masing ada 4shared kan? masih ada ziggy kan??? blogspot? wordpress? or else? halooo? )
siapa sih yang diuntungkan atau dirugikan?

apa kalau Youtube diblokir di Indonesia trus Youtube-nya bakal rugi, bangkrut trus gulung tiker? mmm.... kayaknya ga tuh? Justru malahan, menurutku, orang-orang di luaran sana makin enak-enakan upload video yang isinya macem-macem, dan kita ga tau apa-apa. Hmm... apa iya ini solusinya?
Apa trus Youtube bakalan ngerasa "waduh rek.. kita diblokir nih sama Indonesia.. kita bujuk yuk supaya ga ngambek lagi..." Apa iya??? aku rasa, they don't even care!

Emang sih, ada aturan untuk upload video/nulis blog yang katanya ga boleh mengandung violence, porn, SARA, or apalah lagi... tapi... yang aneh-aneh masih marak tuh???

trus, solusinya apa buat kita-kita yang pake fasilitas blog/share files/social networking ini untuk tujuan baik-baik, buat nambah-nambah uang belanja (buat yang jualan online)? kok lagi-lagi kita yang disuru mingkem? apa trus tiba-tiba pemerintah bikin fasilitas serupa tapi versi Indonesianya? namanya mungkin.... RuangKu, JEJARINGAN, TABUNG-MU, atau apalah? HALOOOO?


Btw, kalo ini emang gara-gara film itu (yang aku males nontonnya krn cuma manas-manasin mata aja), di Timur Tengah or somewhere di China yang juga punya komunitas Muslim sana kira-kira mereka juga ngeributin ini ga ya? apa cuma kita aja sih??? info duuuuooong....

Tuesday, March 11, 2008

Kain di kepala bisa membawa cerita - part 2

mo lanjutin ah cerita yang januari kemarin...

ternyata, keputusan seorang atasan untuk memindahkan posisi seorang karyawannya ke bagian yang ga ok dan menarik semua fasilitas, (hanya gara2 mengubah penampilan) membawa dampak besar... dalam hal ini buat temenku ini.
Apalagi orang itu menggunakan dalih "kurang capable di posisi skr" atau "policy perusahaan" (policy yang mana ya kira-kira? ini urusannya hak asasi loh....), padahal posisi itu udah dipegang dia selama 5 thn terakhir... what a fake!

Aku tau dia pasti sedih banget, sampe mungkin udah kehabisan tenaga lagi buat protes, mungkin juga menyesali keputusannya (mungkin aja), dan akhirnya mencoba pasrah... walopun setiap hari status YM nya sedih terus... (hihi... duh kamu...)

Tapi memang Tuhan itu nggak tidur...
Sekitar 3 minggu yang lalu, ia mendapat tawaran kerja di perusahaan yang kurang lebih sama besarnya dengan yang sekarang, tapi dengan posisi yang jauhhh lebih tinggi daripada yang sebelumnya. tentunya, dengan paket yang jauh lebih menggiurkan pula, walopun minus mobil pribadi... ah... ga ngaruh lah...

Berarti, masih ada orang-orang lain yang bisa menilai seseorang dari kemampuannya, bukan dari apa yang dia kenakan sehari-hari.

Aku ikut bersyukur buat dia... honestly, aku seneeeng banget!
Ternyata di saat ada satu pintu yang tertutup, masih ada pintu-pintu lain yang terbuka untuk kita. Di saat ada yang berusaha jegal kita, masih ada tangan-tangan yang terulur untuk menangkap tubuh kita yang hampir "nggelundung"...

Yang aku lihat skr, status YM nya udah berubah jadi gembira terus, ceria terus... hahaha... congrats buat kamu....!!!

Semoga ini bisa jadi pelajaran buat semua... termasuk aku.

my 1st 300 pages...

duh seneng banget, akhirnya kerjaan terjemahin memoar 300 halaman kelar juga setelah sebulan lewat dikit (hihi... gara-gara disambi sana-sini sih...). Ga sabar pengen liat buku itu beredar...
pokoknya ceritanya seputar dunia spionase, jaman-jaman Perang Dingin gitu... judulnya masih confidential kali ya...
I'm so excited... ini project solo karir yang pertama... mohon doanya yaaa...semoga bisa jalan terus... amin....

Friday, February 22, 2008

Camilla dan tes DNA-nya

Kemarin sore, sempet buka detik.com, di sana ada berita foto tentang hasil tes DNA anaknya Rahma Azhari yang ternyata bukan dari suaminya si Rauf itu.

Di web itu jelas sekali foto-foto surat resmi dari sebuah lab forensik (apalah namanya itu) di Singapore, lembar demi lembarnya yang dengan tegas menyatakan bahwa Rauf is excluded of being a biological father of this baby girl alias, ni babe jelas-jelas bukan bokapnya.

(padahal nih ya, daripada repot-repot ke Singapore segala dan ditusuk-tusuk tangannya buat ambil darah, dari pemampakannya aja kan yaaa sangat jelas kalo ni baby bermata biru dan has a Caukasian look - pendeknya, ni bocah bule berat, jon!).

Oh well, memang ada orang-orang yang seneng ribet daripada gampang.

Entah kenapa, kok tiba-tiba aku pengen nangis setelah liat foto-foto itu. In fact, aku emang sempet beneran netesin sebutir dua butir air mata. Honestly. Entah, kok ada perasaan ga enak... miris banget. Padahal nih, kenal nggak, sodara juga bukan, pernah liat langsung juga gak....

Aku cuma membayangkan what if, aku adalah anak perempuan itu. Bapakku yang asli bule ga mo tahu kalo ada aku, sementara ibu dan lelaki yang jadi suaminya sibuk baku hantam di media, di jalan, di mobil, di cafe, di bar, dah entah di mana lagi.
Sedih...
Ditambah lagi, di sekitarku kayaknya nggak ada yang bisa dijadikan contoh (nggak perlu disebut deh ya... ini bukan blog gosip toh?).
Kok sedih sekali ya...

Aku mulai lebih sensitif pada hal-hal seperti ini sejak aku sendiri punya baby. Aku jadi gampang sekali terharu, gampang "mbrebes mili" (basa Jermannya nangis), padahal cuma sekedar lihat hal-hal atau berita-berita yang yah, bisa dibilang kalo jaman dulu sebelum ada anak, ini berita biasa. Apa ini ya naluri keibuan itu?

Kasihan sekali Camilla itu. Aku yakin ibunya yang seleb itu ga bakalan sudi anaknya dikasihanin orang, malah mungkin dia bakal sesumbar kalo dia bakalan jadi ibu yang paling baik buat anaknya itu. Tapi... apa bisa ya dengan segala kondisi seperti ini?

Camilla... I wish you all the best. Be a good girl, ya...
I wonder what will you be when you have grown up... (sekali lagi, ini bukan blog gosip, ini purely curhatan gw).




Wednesday, January 23, 2008

a little something on my birthday

Ada yang aneh di tahun ini. Saat orang-orang yang kukenal (bahkan tidak kukenal sekalipun) mau berbaik hati mengucap salam, mengirim doa dan ucapkan selamat, justru tidak seorang pun di keluargaku yang mengucap apapun. Tidak ada sms, tidak ada telepon, or even satu email yang berisi selamat ulang tahun.
Padahal setiap mereka berhari jadi, aku selalu berusaha untuk menyisihkan waktu dan spend some time with them.
Aku selama ini juga nggak pernah tuh menuntut mereka untuk melakukan apapun di hari jadiku... hanya pernah satu kali ada permintaan kecil saat aku umur 18 tahun, and it turned out to be the worst birthday ever.
Alasannya apa ya kira-kira kalo yang sekarang?
"Duh kita sibuk banget"? (segitu sibuknya kah hingga 24 jam nggak cukup?)
"Mau nelepon sih, tapi..."
" paginya udah inget loh..." (ya but somehow you forgot kan?)
"interlokal malah sih ya" (ini sumpah ngada-ngada banget kalo sampe ini dijadiin alasan).

Sayangnya, ada seseorang yang selalu berusaha untuk jadi yang pertama mengucap happy birthday buat aku. Tahun ini sih nggak persis jam 12, tp about 01.20, tp tetep aja... dia yang pertama. Padahal dia kalo boleh dibilang bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang memberikan kasih dan perhatian tanpa syarat.
Hmm... ironis sekali.
apa mungkin ini ya kado dari mereka tahun ini... ya itu dia.. kadonya NGGAK ADA APA-APA.

Toh yang penting kan si anu yang lolos ujian saringan masuk PT di sekolah katolik yang dulu aku ditentang abis-abisan (sementara skr semua mendukung dan bangga banget ni orang bisa masuk sana - HOW IRONIC), si itu yang sibuk praktik kerja di rumah sakit, si anu yang sibuk ngurus produk plastik yang konon sukses banget se jagad, trus si onoh yang katanya mo liburan ke Indonesia tp mertuanya sakit... atau si siapalah yang sibuk sama klien dan risetnya...

Anehnya, kok nggak ada air mata yang keluar ya?

Hari ini berlalu begitu saja, tanpa kesan... uuugh... sudah kehabisan akal....
pahit... my own family. Padahal 10 hari yang lalu, aku ada mengucap happy birthday loh...

mau protes? sama aja sama menggali kapak perang, krn justru nanti semua dibalikin ke aku. Hahahaha... they're just an unfunny joke!

Tuesday, January 15, 2008

Kain di kepala bisa membawa cerita

Barusan denger cerita agak menyedihkan...
Ada salah satu temen yang baru aja memutuskan untuk pakai kain di atas kepalanya (u know what I mean...).
Belum ada sebulan, si empunya kantor tiba-tiba mindahin posisi dia dari front liner ke bagian agak-agak kurang penting.
Hmmm... kesian sekali.

Ternyata setelah dilihat-lihat, hampir semua perempuan berkerudung di sana dipindahtugasin tiba-tiba, atau dicuekin abis (kecuali 1 orang, karena dese bargaining powernya kuat, alias di boss butuh berats ama dirinya).
Sedih juga...

Ternyata masih ada orang-orang yang parno sama kain yang ada di kepala.
kalau dipikir-pikir, memangnya kenapa sih?
Kok segitu takutnya sama kain?
Masa penilaian terhadap seseorang ditentukan dari ada atau tidaknya kain di kepala?
Selama ini, kalau dia pakai baju lengan panjang atau celana panjang, nggak ada tuh yang tiba-tiba ketakutan?
Kenapa kok tiba-tiba setelah ada kain nangkring di kepala kok jadi berubah 180 derajat?

Coba deh...
Logikanya kok kayaknya ada yang ga jalan di sini...
Ini orang lulusan luar negeri (tapi watak ngampung ga ilang-ilang).
Bisnisnya bagus, karyawannya ratusan.
Tapi kok ya parno sama yang kayak ginian ya?
Kesian sekali...

terus terang, saya jadi kesian sama keduanya, baik the victim maupun si boss yang norak ini.
Nanti apa lagi terusannya?
kenaikan gaji dibikin seret?
Posisi dipindah-pindahin lagi?
Dzalim sekali...
Siapa dia sih... bisa menentukan nasib orang seenak jidat?
Apa dunia memang sudah segitu parahnya sih?



Monday, January 14, 2008

Selingkuuhh

ibaratnya orang pacaran...
ini sudah waktunya untuk berselingkuh
Semua kini sudah menjadi beban
sesak di dada kini mulai menggemuruh

ada yang bilang selingkuh itu indah... (apanya sih?)
ada yang bilang selingkuh itu dosa
tapi kutahu bahagia itu indah
bahagia itu bukan dosa

Pacarku kini jadi menyebalkan
Setiap katanya membuatku bosan
Gerak langkahnya tak karuan
Kuingin dia lenyap dari pandangan.

Udara....
Udara....
Aku butuh udara itu
Aku butuh hembus angin itu...
Hilangkan sesakku
Cabik-cabik kesalku...
AAAAAARRRRGGGHHHHH!!!!!

Saturday, January 05, 2008

New Collection on www.rannisa.com

check my new collections on www.rannisa.com.

Good stuff, reasonable price, all delivered straight to your door. Why put until tommorow when you can do it today?

Thursday, January 03, 2008

Choking

I can't breathe...
Need... some... air... please...
Can't stand it anymore...
the walls are getting closer
blocking my view
I'm choking...
Please...
Help...
Before...
It's...
too...
late...

Friday, December 28, 2007

Almost New Year

The year 2007 nearly gone,
but made us strong.

The path was long,
but we walked with a song

There were fears and tears,
But we also had reasons for cheers.

God doesn't require us to the the BEST,
but HE just want us to DO THE BEST
and HE will take care of the rest.

Have a great year in 2008!

note : this one's coming from my sister's SMS today. I think it's great and I want to share it with others.

Wednesday, December 26, 2007

Pengalaman di Poke Sushi


Hari itu, kita abis jalan nyari AC. Malem-malem, terpaksa keluar rumah gara-gara mendadak AC di kamar ngadat dan pas dicek, wahhh kompresornya jebol. Duh... mana lagi ga ada duit, belum gajian, ini malah harus ngeluarin duit lebih banyak. Dipaksa-paksain pake kipas angin kok ya masuk angin... mana kesian juga sama baby yang rewel kepanasan. Poor baby...!

Setelah dapat harga dan model yang kira-kira cocok, kita meluncur ke PIM. Niatnya sih liat-liat di Agis, sapa tau ada penawaran di akhir tahun seperti dulu. Eh... sampe sana ternyata sepi-sepi aja tuh, malah harga yang didapetin lebih mahal dan brand-nya ga ok. Selesai dari sana, laper mulai menganggu. Yuk, makan di Sushi Tei, kata suami. (tumben-tumbenan nih... I know kalau dia ga demen sushi). Ok... aku sih setuju aja... hehe...
Bener aja, nguantriiiiii.... secara pas jam makan malem, trus liburan pula... Ada mungkin 20 orang di depan kita yang masuk waiting list. Weleh... kapan makannya kalau nunggu mereka?

Akhirnya kita ke Poke Sushi (lagi). Inget-inget kalau ada diskon 25% di hari libur kalau pakai kartu tertentu (belakangan baru nyadar, kartunya nggak kebawa karena ada di tas yang satu lagi... *doh!*).
Kali ini, kita ambil paket "All You Can Eat". Udah siap-siap perut menampung sushi roll yang banyaaak dan enaaakkk....
Dedooot.... waiternya lama dan oon kelas berat. Pesenan awal yang 4 macam, cuma dateng 3 macem dan kita dicuekin kayak kita ga bayar aja makan di sana. Para waiter yang banyak itu (beneran banyak loh yang seliweran), malah sibuk dengan meja-meja kosong yang aku yakin hari itu ga bakal keisi sampe dia tutup ntar jam 10. Meja ditarik sana, tarik sini... geser sana... geser sini... dan rame-rame pulak.
Setelah komplen dan lama kemudian, baru deh dateng itu 1 pesenan term pertama. Seupil, ga menarik, dan... si waiter berusaha nyembunyiin struk-nya (soalnya ada tulisan : waiting time). Aku rasa kalau sampe ketahuan, dia bakalan kena denda deh... makanya diumpetin. Ughh... akal-akalan ala Indonesia banget... Capek!

Value yang kita berikan buat Poke Sushi makin lama makin berkurang, to be honest. Harusnya mereka punya dedicated waiter untuk setiap meja yang pesan AYCE. Logikanya, ya biar ga lama-lama mesennya, dan proses memamah biak yang super banyak itu bakalan lancar (jangan-jangan ini akalnya manajemennya mereka, supaya yang mesen AYCE sebel dan ga mesen banyak-banyak, trus buru-buru cabut). Su'udzon... tapi aku sebagai customer (returning customer, tepatnya) sangat kecewa. Apaan.... norak sekali pelayanannya.

Kita memang langsung menutup bill sambil pesen 2 menu terakhir. Bete... cuma, aku masih gatel pengen kasi komen tentang menu sushi yang terakhir kita pesen : HALF BAKED ROLL.
Sumpah... ini enak banget... aduh sampe sekarang aja masih kebayang rasanya... itu keju dan tuna (kayaknya sih tuna) yang dibakar di atas sekepel nasi... aduh.... aduh.... sumpah... uennnaaakkk...
Cuma sayang, kayaknya untuk balik ke sana lagi, mikir-mikir lagi deh... kecuali itu waiter2 dikasi penataran dulu... hahah...
Sayonara Poke Sushi!

Jakarta... oh Jakarta!


Ceritanya ini pas di malam lebaran haji (buat yang ngikut Pemerintah ya..kalo aku sih udah kemarinnya). Pulang kantor, ada rencana buat kumpul sama temen di Senayan City, maem sushi sambil ngobrol-ngobrol. Jam 5 kurang 10 aku sudah turun dan nunggu di lobby apartemen, nunggu taxi. Wah... ujannya belum berenti juga ternyata dari jam stg 2 siang.
Ah cuma ga papa... paling bentar lagi ada, pikirku.

10 menit... 15 menit berlalu tanpa hasil. Begonya sih aku jg nggak bawa payung, jadinya mau nekat jg ragu-ragu... cuma keliatan dari luar pagar apartemen kalo banyak taxi kosong yang lewat. Nekat ah... aku jalan aja keluar.
Ya ampuuun... ternyata gerimisnya rada lumayan. Baru juga jalan semenit, baju udah mulai berasa lembab, dan belom ada juga taxi yang lewat... Duuuh... balik lagi deh ke lobby.
Ternyata 15 menit sampe 30 menit berikutnya berlalu tanpa hasil. Mana perut lapar gara-gara nggak makan siang, duh kayaknya lengkap banget penderitaan di sore itu.

SMS-SMS juga mulai meluncur, saling memberi kabar tentang sikon antara lokasiku dan di Senayan. Sudah ada nih 1 SMS yang siap meluncur, yang isinya batalin janji di sore itu... baju sudah basah kuyup dan aku mulai sebel karena nggak ada 1 sekuriti pun yang mau bantu dan cariin taxi (mbok ya kesadaran kan lo juga liat gw tiap hari seliweran di situ... gw kasi duit deh... bete!).

Hampir setengah tujuh... ada taxi Putra tiba-tiba masuk ke arah lobby apartemen. Aku langsung berlari-lari di samping taxi itu, sambil basah-basahan dan memberi kode kalau aku akan naik. Untung, penumpangnya baik. Dia cepet-cepet bayar dan cabut. Dan... aku pun akhirnya safely naik dan pergi dari sana.

Di perjalanan, ternyata AC nya nggak dingin. Wah, untung banget... udara kan dingin sekali, mana baju basah... jadi serasa di dalam heater deh, baju lumayan jadi agak-agak kering. Ternyataaa... macet boo.... welehhh...
Cuma aku sudah nggak ngurus itu lagi. Mo macet kek, apa kek... pokoknya harus nyampe ke Senayan City. LAPARRRR!!! I could eat a horse...!

Akhirnya sampe. Suasana lumayaj rame, ternyata banyak sekali orang yang nunggu taxi juga di lobby sana, jadi mereka rebutan gitu pas aku turun. Hehe... aku jadi ngerasa banyak temen senasib. Cek-cek baby check... eh... ternyata malah temenku lagi sibuk nyari parkir, padahal dia jarak dari kantornya ke Sensi cuma 2 menit, kali... uuhh... mo makan nih gwwww...

Singkat cerita, akhirnya kita jadi makan dan ternyata ada 4 orang temen lagi yang gabung sama kita hang out di sana. Wahh, aku bener-bener had a good time, dan sempet agak lupa sama sebelnya pas nyari taxi tadi.

Jam 8 lewat, kita pulang deh... Nahhh... ini dia.... NGGAK ADA TAXI!!! Yang ngantri di valet aja udah lebih dari 20 orang kali, sementara ga ada 1 pun taxi available, dan ujan masih terus turun. Jadinya aku nebeng deh naik mobil temen, sapa tau nanti di jalan ada taxi. Guess what.... NGGAK ADA JUGA..... GOKILLLL
Keputusan yang diambil, ikut temen sampe rumahnya di Slipi dan nyari dari sana. Weleeeeh... jalan menuju sana aja muacet abis, hampir ga bergerak. Sampe Slipi jam 10 aja gituuu dan blm dapet taxi buat pulang.
Duh anakku, maapin Mama ya... kok jd pulang malem banget....

Singkat cerita, baru dapet taxi jam 11 kurang 15, Blue Bird, supirnya baek banget. Di jalan, si Nanny udah nelponin, takut aku kenapa-kenapa karena ga pernah pulang jam segitu tanpa kabar (maap ya...). Baby udah tidur, dan alhamdulillah ga rewel.

Nginjek rumah akhirnya jam stg 12 (jalanan masih macet kayak pulang jam 5 sore aja), dan suami ternyata belum nyampe juga. WADUH BOO.... Jakarta emang kacau banget musim ujan ini. Sampe kapan yaaa kita harus bertahan tinggal di kota yang kacau balau begini??? Betapa ruginya yang harus ditanggung semua orang; waktu, biaya, energi, fisik, semuanya deh... lelah lahir batin. Hhhhh.... capeknyaaaa....

Monday, December 03, 2007

Red Land... a fashion paradise


Alhamdulillah... setelah seminggu kemarin pikiran butek dan bad mood terus-terusan, weekend ini aku dapet hiburan yang cukup menyenangkan. Hari Minggu kemarin, aku jalan-jalan ke surga busana Jakarta - di Red Land alias Tanah Abang (skr di sana tulisannya jadi Tenabang).

Nggak jelas juga kenapa daerah ini kok dibilang Tanah Abang... emang yang lain tanahnya sapa ya? Ini kalo membaca secara harfiah loh... tanahnya si Abang... hehe... tapi yo lek coro jowo yaaa jadinya tanah merah... hihihi rodho ngawur tapi yo lumayan lucu toh... (apa maksa ya? hahahah)

Eniwei... kemarin bener-bener sebuah pengalaman yang seru. Setelah tinggal bertahun-tahun di Jakarta, bahkan pernah tinggal di deket-deket Tanah Abang, eh lah kok ya baru kemarin gitu loh bener-bener visit dan shopping di sana. Aku pikir cuma aku yang aneh, eh ternyata si hubby jg sama aja... hahah...

Memasuki daerah Tanah Abang, terlihat banyak pedagang dan pembeli seliweran di jalan; ada yang sibuk jualan di pinggi jalan sampe nyusahin kendaraan lewat, sampai-sampai, oleh-oleh Haji tersedia lengkap di sana, sampe air zamzam yang dikemas dalam jerigen dan disegel plastik dari Arab juga ada loh... tapi aku jdi mikir waktu itu, ini air zamzam jaman kapan ya? Jangan-jangan sudah umur 6 bulan tp masih dijual... hiiiy... males aja mikirnya!

Cuma intinya, mereka sangat mempermudah orang-orang yang pergi umroh atau haji yang ga sempat belanja, atau malah sudah belanja tapi ternyata kurang (biasa toh, oleh-oleh sudah dihitung pas, eh, ada aja yang kelupaan). Malah kalo mo iseng, bisa aja sok-sok abis pulang haji/umroh terus bagi-bagi oleh-oleh, padahal borongnya di sini, hahahaha..... *oops*

Aku dan hubby ga turun dan browsing si toko Haji, secara kita emang mau masuk ke dalam pasar aja dan liat-liat yang ada di sana. jadinya, kami melanjutkan perjalanan dan masuk ke area parkir.

Biasanya kan, kalo masuk di gedung parkir kita akan parkir di lantai 1-2 kan ya... guess what... kita parkir di LANTAI 11!!! Lantai di bawah-bawahnya semua buat loading dock, ga bole buat pengunjung... ! Ngeri banget...!!! Mobil kita kayaknya ga sampe-sampe gitu... muter... muter.... kalo liat ke bawah kayak naik pesawat aja, tinggi banget! hiiiy.... Kalau nggak salah, gedung perbelanjaan ini sampai tingkat 13, lantai yang paling atas adalah masjid. Pantesan kalau dari jalan raya, hiasan di paling atas gedung agak beda (awalnya aku bilang kok kayak jendela gereja, padahal ternyata masjid).

Dari sana, kita turun ke lantai 7, karena mo liat-liat baju muslim. Pengelola pasar ini sengaja membagi-bagi lantai pasarnya sesuai jenis barang yang dijual. Lantai 8 khusus buat tas, ikat pinggang, pokoknya yang berbau-bau kulit deh... trus lantai sekian untuk food court (lengkap banget jajanannya, manteppp!!!), pokoknya kita dibuat nyaman aja. Suasananya enak, full AC, bersih, serasa di ITC... Eh baru inget, belum ambil uang. Nyari ATM deh... ternyata ATMnya ada di basement 2.... waaaa.... jauh lagi.... nunggu lift, penuuuh mulu... akhirnya pake eskalator, sambil liat-liat orang dagang.

Bener aja, waktu sampai di Basement 2, suasana pasarnya baru berasa. Di sini orang berjubel banget, apalagi di luar rupanya hujan mulai mengguyur. Gila... apa aja ada dijual... ada yang khusus jualan hanger dan manequin, ada yang jual baju anak, kaos bapak-bapak ( itu loh polo shirt), ada yang jualan juice (ini kayaknya laku berat soalnya ga ada saingannya). Abis nemu ATM dan ambil duit, kita langsung buru-buru ke atas lagi, supaya ga sumpek.

Liat sana sini, nanya sana-sini, malah tambah bikin kita bingung soalnya ada ribuan jenis baju, kerudung, dan pashmina yang ditawarkan. Mau jenis kain yang segimana juga ada deh... waduh... bisa-bisa nggak beli nih kalo ga cepet-cepet mengambil keputusan mau yang mana. Harganya juga bersahabaaaat banget. Gawat... kalau aja toko di sana pada bisa pake kartu, kayaknya kita bakal gesek banyak tuh.... hihihi.... Akhirnya kita memutuskan buat belanja di 1 toko yang kayaknya stok barangnya banyak dan lumayan ok, yang punya orang India gitu deh... cukup ramah kok... Setelah nanya bahan, harga, pilih-pilih warna dan sebagainya, blablabla... ga lama, sekeresek kaos dan jilbab sudah di tangan. Wahhh... senangnya...

Kalau nggak inget ini baru awal bulan dan sudah ngeluarin duit lumayan, pengen rasanya weekend besok ke sana lagi dan belanja lagi. hehe... Tanah Abang bener-bener surga fashion deh....!!!! TOP!

Thursday, November 29, 2007

Jemu

Every breath now feels like a really hard work. Especially this week... everything seems to be wrong. Hate the people, hate the weather, hate the sky, hate the traffic, hate the mobile phones, pokoknya... benci semuanya.

Ada segumpal kesal yang sepertinya semakin lama semakin mengganjal di kerongkongan; semakin lama ia semakin membesar
sehingga mungkin akan membuatku tercekik
dan akhirnya mati lemas.
Tapi bila kutanya... jawabnya tak kutemukan.
Jemu... bosan...

Kupaksa mata untuk melelehkan sedihku yang mengendap.
Tak bisa.
Hanya ada isak sesaat tanpa airmata.
Kucoba lagi, dan lagi, dan lagi....
tapi tetap saja, satu dua titik tanpa rasa lega.
Aku jemu...!

I hate the world today.
Aku tak menyesali keputusan yang pernah aku ambil sebagai jalan keluarku dari sebuah kisah lawak yang tidak lagi lucu. Tapi anehnya setiap hari kini terasa seperti siksaan. Aku seperti tawanan. Tak bisa berpikir, tak bisa beride, karena semua sudah ditentukan. Perjalananku seperti tak ada arti. Semua basi... semua hanya omong kosong.

Aku pergi karena tak dianggap berarti,
tapi jalan keluar itu sekarang malah menghitam dan malah mengabur.
Aku seperti jatuh ke dalam sebuah liang tanpa dasar;
tubuhku hanya melayang mengikuti arusnya, tanpa bisa berteriak ataupun bernapas. Kumenunggu saatku terhempas dan pias.
Aku jemu.

Aku butuh udara...
Aku butuh udara...
Ijinkan aku untuk bisa tertawa
Aku ingin senyuman
Aku ingin bahagia dalam diam.
Aku jemu
Aku membiru
Aku membatu.
Aku masih menunggu...

Friday, October 05, 2007

Dipilih... dipilih... dokternya!


Dari kecil sampe sekarang, kalo dihitung-hitung aku sudah ketemu sama buanyaaakkk dokter. Dokter pertama yang aku inget adalah dokter anak, kebetulan sebelahan rumahnya, namanya dr. Etty (alm). Beliau ini baiiiiikk... banget deh, sabar, walaupun aku sering ngerepotin. Dan... ga mo dibayar! Seriously! Kayaknya sih gara2 pernah jadi muridnya babe... senangnya.... hahahha...
Sayang banget beliau cepet banget dipanggilnya, padahal masih muda. *pray* God Bless You.

Seingetku, selama di rumah ortu, ga pernah ada ceritanya bingung nyari dokter soalnya hampir semua dokter (mo dokter gigi, kulit, umum, anak, dokter hewan juga kalo ga salah), semuanya ex murid babe... hihi... jadi ga pernah deh takut ada mal praktek segala. alhamdulillah.

Selepas dari rumah orang tua dan hijrah ke kota lain, sampe-sampe mondok di ibukota, mulai deh bingung nyari dokter soalnya udah ga punya referensi. Apalagi kalo baca di media-media, kayaknya jadi banyak banget dokter "ngasal" atau malah dokter "mbuh lulusan mana". Hiiiy ngeri...
Tapi, apa mau dikata, referensi harus dicari sendiri, lewat :
1. Apa kata orang/sodara/temen/sapa lah
2. Milis or forum diskusi lainnya.
3. Trial and error.

Yang paling berasa, pas hamil. Memang sih, pas abis merit, survey2 obgyn mulai dilakukan. Pilihan pertama, jatuh ke dr Okky di RSIB. Waktu itu, ada keluhan yang memang harus disampaikan. Ga ada bayangan kayak apa sih dr-nya, wong pas ditanyain suster mo ketemu dokter siapa, aku cuma bilang " siapa aja deh sus, yang available sekarang". Ya udah deh, aku diarahkan untuk ketemu dese.

eng ing eng....

pas masuk ruangan dan ketemu orangnya.... *gubrak* waduh... kayaknya keluhanku langsung ilang separo, hahahaha.... (dok, kalo lo baca ini, boleh GR kok...). Keren banget.... hahahahah!!!! Jadi malu ati mo tanya-tanya, but I had to do it.

singkat cerita... lewat sudah dr Okky. Aku kasi tanda "check" di kartu surveyku. hahah... see you around, doc...!
Tapi, setelah dilihat-lihat, pasiennya beliau ini buanyaaaaaaaaaaaaakkkkkkk banget. Nguantrine reeekkkk... manatahan deh. Jadi pas beneran hamil, beliau agak-agak dipindahin ke box "nanti aja".

Akhirnya nyari lagi deh obgyn lain yang kira-kira ga terlalu ngantri, dan pengennya udah rada tuwir (kesannya udah banyak pengalaman). Pilihan jatuh ke dr Bambang (bener ga ya namanya? hahaha udah lupa lagi deh). Dari penampilannya, beliau ini cukup senior, usia udah above 50-lahhh...
Pertama kali konsul, belum hamil tuh... tapi konsul soal lain. Ehh... bulan berikutnya, aku hamil...! Ya udah, periksalah lagi ke dia. So far so good lah... tapi... kok kurang komunikatif ya? trus gak charming pula... (kalo yang pertama kan over-charming, jadi sal-ting, whuahahahah).

Apalagi pas my first trimester, kan kena hyper emesis tuh (bener ga ya istilahnya), dese susah dihubungi walopun dikasi no HP nya. Wah.. ga bisa kayak gini nih.. OK, I crossed you out of my list!
Eh iya, sebelum dicrossed out, aku sempet kenalan sama dokter perempuan yang baik hati, namanya dr Sri Lestari. Keibuan sekali, kayaknya sabar dan udah senior juga. Tapi entah, kok ya ga pas ya... feeling itu berasa pas dikasi obat sama dia, kok kayaknya aku ga cocok ama obat itu... Bu dokter, maaf ya, Ibu saya coret juga.

Udah berapa ya obgyn yang dibahas tadi? Tapi belum habis sampe di situ...

Hyper emesis makin parah... need... to... find... a...doctor... right... away.... *gasp*!
Issue gender sebenernya sudah mulai dipikirkan di tahap ini. Ga mau obgyn cewek... kurang ditayang-tayang. Konon begitu kabarnya, tapi ternyata bener. Tapi, kondisi sudah parah. Pas ke RS, adanya dr Anty (Rudyanti).

OK... let's gave her a shot!

Periksa periksa periksa.... dan ternyata aku harus mondok di RS. Fine... no problemo. So, I let her to examine me for the time being. First exam, ok... after 3 days, I could go home. Eh... ternyata kondisi drop lagi. Pas mo konsul lagi, eh... si Ibu lagi cuti ke Malaysia... waaahhhh... gimana nih gw?
Ternyata obgyn penggantinya adalah dr Okky (lagi). Duh, malu ati lagi deh... mukaku udah kayak zombie gitu...
He took care of me for the next 4 days, everything's OK, dan akhir hari ke 4, ketemu juga sama dr Anty. Feeling masih bagus, feeling masih OK.

Bulan bulan berikutnya berlalu. Setiap bulan ketemu ama si Bu Dokter, tanpa masalah. Tapi... menjelang akhir trimester 3, kok perasaan jadi ga enak ya? Kok ada yang ga pas di hatiku ya? Kayaknya beliau kurangmenjawab kebutuhan-kebutuhanku saat itu. Biasa toh... anak pertama, jadi kan heboh-hebohan gitu... Warm feeling-nya kok jadi merosot? Kalo boleh dikasi tanda bintang, mungkin yang tadinya dikasi bintang 4 ini jadi bintang 2 deh.

Agak panik juga, secara ini udah counting the days toh... sapa tau akhir bulan 8 lahiran? Duhhh... nyari lagi deh... sekalian nyari pilihan bersalin di RS lain. RSIB mahal, bo.... apalagi kalo mo cesar... waaaa.... manatahan!

Setengah iseng, jalan-jalanlah aku sendiri ke RS Yadika, yang memang sebetulnya kelewatan tiap hari. Tanya sana tanya sini, cek sana cek sini... liat list dokter, hmmm... kok ga ada yang kenal ya? Tapi.... ada satu nama di situ yang kayaknya "ring a bell".
"Didi Danu".

Hmm... check check double check... NAAAAHHHHHHHHH bener, ini die nih....!

Ternyata dese praktek juga di RSIB. Pertimbangannya, kalo mo priksa2 lagi nantinya, bisa balik lagi ke RSIB, apalagi medical recordku lengkap di sana. OK, let gave him a shot yaa....
Dedooott.... first meeting kejadian jam 12 malem. BUSEEETTTT....

Tapi, for our surprise, ini dokter udah lewat tengah malem dan abis ketemu sama berpuluh-puluh orang di hari itu, pas ketemu kita kok "ceng-har" pisan... Ga keliatan leuleus tuh, padahal kita aja udah setengah bobo. Masih muda, penampilan se-charming dr Okky (dengan antrian pasien yang lebih parah ternyata, ya ampyuuunnnn...), tapi lebih ketawa-tawa dibandingin dr Okky (dese ini kayaknya rada jaim loh, Bo...). Oh well, first impression : MAKNYUSSS.... hahahahah!

Oaaahhhmmmm.... hi, doc.... ! *nguap*


blablabla selanjutnya, akhirnya palu diketok ke pilihan yang terakhir *tok tok tok*. Sorry ya, dr Anty, ternyata di saat-saat terakhir, aku harus "missing in action" from your list.
I let dr Didi took care of me and my baby, either it would be a normal procedure or c-section. Cerita lengkap soal lahiran dll, ada di posting yang lalu.


And finally, until today, beliau-lah yang menjadi obgyn terbaik bagi kami. Hopefully, pilihan ini nggak salah dan beliau tetap bisa menjaga kepercayaan yang telah kami berikan.

(dok, kalo lo baca ini, sama kayak dr Okky, boleh GR kok... hehe...!)


Kalo untuk dokter anak-ku, storynya ga seheboh obgyn, soalnya alhamdulillah banget dapet refernsi dari ipar, dan ga ada masalah sampe sekarang.

Hahah... ternyata mencari dokter itu juga bisa dibuat cerita tersendiri loh. Bener-bener sebuah pengalaman yang seru, kalo dipikir-pikir sekarang.


Wednesday, October 03, 2007

Ngulek Sambel Ga Bole Beda Tangan!


Hari ini mendadak gw inget satu hal yang mungkin sepele tapi bisa jadi penting, terutama buat emak-emak rumah tangga yang biasa nguplek di dapur... hehe...

Duluuu, pas aku masih tinggal sama Mama n living single, ada satu trik masak memasak yang beliau kasih...
"Kalo ngulek sambel ga bole ganti-ganti orang, nanti rasanya beda!"
Apa iya ya? Logikanya kan tangan megangin ulekan yang sama, cobeknya sama, yang mo diulek sama, trus gimana bisa beda rasanya?

Tapi setelah diujicoba, kayaknya triknya si Mama ini ada benernya loh... coba aja deh...

Racikan bahan mentah yang sama, hardware yang sama, tapi kalo sentuhan tangannya beda, mungkin bisa memberikan hasil yang beda. Kalo soal persambelan, mungkin gaya nguleknya yang bikin rasanya bisa beda, hahah... Yang biasanya nguleknya agak-agak setir kiri atau gayanya "patah-patah", kalo diganti yang bergaya setir kanan mungkin membuat si cabe ama terasi nyampurnya beda, hihi.... ada-ada aja ya...

Jadi, ada kejadian kemarin sempet juga nyaris nyolot pas ada omongan "kok sekarang sambelnya beda rasa, lebih enak nih... ganti babu ya?". Bener-bener sempat merasa agak terhina loh... gila masa gw yang udah gape bikin sambel dan tiap hari ngulek sambel kok bisa-bisanya ada omongan gini... Sebagai "senior" di bidang per-sambel-an yang sempet diganti oleh tangan babu baru, jelas sebel dong, apalagi ada embel-embel "kok lebih enak". Belum lagi si babu-nya malah jadi agak jumawa n makin semangat membuat komunitas babu se-RT-nya makin berkembang. Buseeet.... emang segitu begonya apa ya gw di dapur? Sempet kepikir kayak gitu loh... gila juga!

NASIIIBBBB... NASIIIBBBB.....

Tapi pas inget pesennya si Mama, oh iya ya... bisa jadi bener. Liat aja di rak bagian bumbu di supermarket; ada sambel ulek made in Bu Siapa gitu dari Lampung, ada Sambel Setan ala Bu Rudy, ada Sambel Jempol, dan masih banyak lagi yang lain. Padahal kalo diliat di balik labelnya, bahannya juga cabe merah, cabe rawit, terasi, garem, tomat, udah...! Tapi tetep aja kan mereka bisa klaim "ini sambel khas gw!".


Ini mungkin bisa juga diterapin untuk hal-hal lain loh, selain nyambel. Mungkin cara mengaduk santan, cara mengiris bawang, -loh ini apa lagi?-

Salam Pedes!

Thursday, September 27, 2007

SUSHI


Cerita kali ini berkisar soal makanan Jepang yang namanya SUSHI. Itu loh... makanan yang musuhan ama minyak goreng n kompor... hahah.

Gini... seminggu sebelum ketahuan hamil (pernah dicritain soal ini ga ya? lupa lagi...), aku dan 2 temen; Arlien n Visi sepakat untuk mendatangi sebuah sushi cafe di deket-deket kantor, padahal kita tau persis kalo kita ber3 emang sobatan banget sama kompor, alias doyan makanan mateng.

"Alaaah.... kalo orang lain doyan, masa kita nggak sih?" gitu sesumbarnya kita waktu itu
"Gw yakin ga ada yang salah ama lidah gw. Masa sih ga bisa belajar maem sushi?" ada lagi deh komen yang kayak gitu.

Singkatnya, pas jam 12 teng, cabutlah kita ber3 naik Timoti nya si Visi.
eng ing engggg....

Setelah muter-muter, kita putusin deh buat masuk ke Aozora. Ya elaaah... ternyata mati lampu aja di sanaaaa....
tapi, mbak-mbak n mas-masnya sih mempersilakan kita masuk ke sana.
"diskon deh mbak" katanya
Duile... rindu order ya? hahahah

Setelah bolak balik liat menu dan tanya sana-sini, jadilah ada 3 menu sushi yang dipilih. Visi keukeuh ga mau yang mentah.
"Aaaah... cemennnn... masa ga brani?" kita cela-celain aja tu anak, soalnya ga mau take the chance.
"Bodooo...." jawabnya....
OK deh, Bo...

Jreeeenggg.... ! Sebentar kemudian datanglah itu 3 pesenan... (ada fotonya loh... nanti disusulin deh ya...)
Serentak muka-muka kita jadi bego. BUSEEEETTTTT... apaan tuh?
HUAHAHAHAHA...

Rencana makan siang yang gagal total. Arlien mukanya jadi ijo setelah makan 2 potong (sampe kudu bikin sumpah ga akan muntah), hahah... kesian sekali... Kita bertiga tampak sangat tersiksa saat itu... duh... knapa juga sih jenggg..? hahahah

Daripada mubazir, akhirnya sisa sushinya dibungkus (ya lah... udah muahaaaal banget, masa dibuang sih? mending dikasiin anak-anak ktr yang doyan). Selera makan berikutnya menjadi agak-agak terganggu hari itu. Perut laper, tp lidah masih agak-agak protes. hihi... kesian sekali kita.

Bener aja, pas sampe kantor... muka-muka penggemar sushi sudah menanti dengan mata berbinar-binar (ya lah, sushi gratisan), terus pas makan mereka bener-bener (ini serius) merem melek keenakan.
GA SALAH LOOOO?

Anyway, bukan poin itu yang sebetulnya pengen diceritain di sini. Melainkan... aku sekarang justru jadi sukaaaaaa... banget makan sushi. Perasaan itu timbul pas abis lahiran (aku yakin ini nggak ada hubungannya lah ya..) kemarin.
Tiba-tiba aja aku jadi pengen makan sushi. Di sela jam-jam nursing-ku, aku pergi aja bentar ke sebuah sushi house di deket rumah. Sendirian aja lah... dan... SUKSESSS!!!

Aneh... makanan itu jadi uenaaaak banget di lidahku, sampe sekarang. Malahan, waktu itu sampe pernah selama seminggu hampir tiap hari mampir ke sushi house (sampe bela-belain ke PIM II segala malem-malem ndirian), demi makan sushi. Justru kalo mengingat kejadian di Aozora, aku jadi heran sendiri. Kok bisa se-ekstrim itu ya perubahannya sekarang?

Dan ujung-ujungnya si Arlien yang awalnya juga nyumpah2 ga mau lagi mam itu... eh... jadi suka juga.... Kita sempet beberapa kali mampir ke Shabu Nobu-Kemang pas makan siang, menjelang aku cabut dari kantor Narrada.

HAHAHAH....
bener-bener sebuah pengalaman kuliner yang aneh.

Kesimpulan sementara yang kita ambil adalah mungkin waktu itu kita salah strateginya. Kita salah mesen. Kalo sekarang ada yang ngajakin... hayooo... mariii.... kmana kitaaaa????

Salam sushi!
(dari kemarin pengen banget maem sushi tp ga sempet aja)